Kisah Outbond D4 ITB Batch 5

Bismillah…

Sabtu, 26 Nov 2011 merupakan awal pertemuan mahasiswa program D4 ITB Batch 5 dalam kegiatan outbond. Sekitar jam  6.00 pagi, kami berkumpul di lapangan yang terletak di samping gedung Seamolec. Di sini, kami disambut oleh Bapak Stanley Surila yang subhanallah semangat sekali!… Sehingga sendi-sendi kami ikut bangkit seiring dengan seruan semangat dari beliau.

Kami membentuk lingkaran, bernyanyi bersama, dan mengikuti beberapa games ‘segar’ yang bertujuan untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri peserta. Ketelitian, ketajaman berfikir, kecerdasan, dan ketepatan kami diuji dalam games kecil yang kaya manfaat ini. Saya bergumam dalam hati, betapa ruginya teman-teman yang tidak hadir hari ini.

Kini saatnya kami bergabung bersama kelompok outbond yang telah ditentukan oleh panitia. Seluruh peserta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok matahari, kerbau, kuda, dan harimau. Saya mendapatkan bagian dalam kelompok Matahari. Alhamdulillah Saya diberikan kelompok yang terdiri dari orang-orang baik dan unik🙂. Setelah berkumpul dalam kelompok ‘baru’ ini, kami menyatukan suara untuk menentukan ketua kelompok. Akhirnya terpilihlah satu nama yaitu Esha Ramdhan dari Politeknik Telkom Bandung.

Selanjutnya kami membuat yel-yel yang seru untuk menghidupkan dan mewarnai suasana outbond. Tiap kepala punya isi dan kreasi berbeda untuk menyumbangkan idenya dalam membuat yel-yel. Perbedaan suku, asal pendidikan, dan karakter membuat kami semakin berwarna laksana pelangi di langit yang indah. Tak surut langkah kami untuk menyatukan pendapat meskipun berbeda. Itulah serunya keberagaman dalam hidup. Menambah wawasan, memperkaya diri, dan agar kita saling kenal mengenal satu sama lain.

Setelah itu, kami mengikuti serangkaian kegiatan di dalam ruangan untuk pembentukan karakter. Alhamdulillah, dalam pembentukan karakter ini saya mendapatkan banyak ilmu dari Bapak Stanley dan kawan – kawan sesama peserta outbond. Di sini, kami diajari bagaimana cara kami menghadapi masalah, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, mengendalikan diri, dan segudang pelajaran hidup lainnya.

Usai materi motivasi dan pembentukan karakter dari Bapak Stanley, kami diperkenankan untuk keluar dari zona aman. Yakni dengan mengikis rasa malu kami dengan berjualan pulpen dengan harga yang lebih tinggi dari harga beli. Ketika diawal, masih ada rasa ragu apakah mungkin pulpen ini bisa terjual 10x lipat dari harga beli? Tidak ada yang tidak mungkin! begitulah kata teman saya. Kita harus mencoba!

Tiba saatnya kami menjalankan misi berjualan pulpen dengan harga yang lebih tinggi dari harga awal. Saya dan teman-teman dari kelompok matahari menyusuri jalan sekitar penduduk Universitas Terbuka. Berharap untuk menemukan orang yang mau membeli pulpen ini dengan harga tinggi. Pertama kali, saya bertemu dengan 2 orang laki-laki paruh baya yang sedang asyik berbincang-bincang di teras rumah. Dengan salam, senyum dan sapa…saya mencoba membuka penawaran pulpen dan ternyata orang tersebut belum berminat untuk membeli. Tak apa…perjalanan masih berlanjut dan semangat tak boleh surut. Akhirnya kami menuju ke daerah penduduk dan melihat seseorang yang sedang membuka pintu pagar rumahnya. Kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk menawarkan pulpen kepada nenek tua yang berada di halaman rumahnya. Kami mengucapkan salam, senyum dan menyapa nenek yang baik hati itu dan dilanjutkan dengan menawarkan pulpen. Kami menyampaikan, bahwa hasil penjualan pulpen ini akan kami alokasikan untuk orang-orang yang kurang mampu. Dengan senyuman, nenek itu memeluk kami dan menpersilahkan kami masuk ke rumahnya yang teduh. Kami menjual pulpen tersebut dengan harga Rp 20.000,- . Tanpa pikir panjang, beliau menyanggupi untuk membeli pulpen dan langsung menyuruh kami duduk di teras untuk menunggu beliau mengambil uang. Perasaan bahagia menyelimuti kami…

Alhamdulillah pulpen terjual juga, meskipun kami merasa belum maksimal. Tapi pelajaran kehidupan telah saya dapatkan pada hari itu.Yakni kemurahan hati seorang nenek yang mengajari saya akan indahnya berbagi kepada sesama.

Setelah usai berjualan pulpen, kami kembali ke gedung Seamolec untuk berkumpul dengan seluruh peserta outbond. Acara kembali dipandu oleh Bapak Stanley dan kami diminta untuk menuliskan total pendapatan penjualan pulpen untuk dijumlahkan dengan kelompok lain. Alhamdulillah kelompok kami mendapatkan hasil penjualan sebesar Rp 385.000. Sedangkan kelompok kerbau sebesar Rp 295.000, kelompok harimau sebesar Rp 180.000, dan kelompok kuda sebagai juara yakni sebesar Rp 444.000. Dahsyatnya, ada teman satu kelompok saya (Asep)  yang mampu menjual 1 buah pulpen dengan harga 250.000,-.  Saya kembali memetik hikmah dari penjualan pulpen ini. Keyakinan itu sangat diperlukan, kita pasti bisa meraih sesuatu. Jangan pernah takut mencoba dalam hal kebaikan. Maju terus, pantang mundur!!!

Malam harinya, kami diminta untuk mengikuti acara api unggun. Kami berkumpul jam 19.30 malam di lapangan samping gedung Seamolec. Disana, kami membentuk lingkaran dan dilatih untuk menyeimbangkan otak kanan-kiri dengan permainan yang melibatkan tangan peserta untuk sigap menyambut perintah dari panitia outbond. Jika salah, maka kami harus maju untuk membentuk lingkaran yang baru.

Usai mengikuti permainan yang dipandu oleh panitia outbond, ada salah seorang peserta (Hudori) yang diminta untuk menyalakan api unggun. Selang beberapa menit, api unggun belum menyala juga. Maka saya mengajukan saran kepada panitia outbond untuk menambah personil untuk menyalakan api unggun.

Akhirnya api unggun dapat menyala dengan bantuan dari peserta lain. Setelah itu, Bapak Faisal memberitahukan kepada kami bahwa Hudori sedang berulang tahun. Ternyata….feeling saya benar juga. Ada indikasi hal itu terjadi bukan karena sungguhan. Tapi ada faktor lain, yakni tepat pada hari lahirnya.

Bapak Stanley meminta kami untuk menuliskan hal-hal negatif dalam diri kami masing-masing untuk kemudian dilemparkan ke dalam api unggun. Bakar!! Bakarlah saja aura negatif dalam diri kita. Bakar dan hanguskan bersama dengan panasnya api. Kami harus bangkit menjadi manusia – manusia yang lebih baik lagi…

Bapak Stanley juga mengajak kami untuk mendekat ke arah api unggun dan merasakan panasnya api tersebut. Semakin dekat…dekat…dan dekat lagi dengan api unggun. Hal ini membuat kami memahami bahwa panasnya api di dunia saja sudah sangat panas. Bayangkan, apalagi api neraka? Yuk…kita muhasabah (evaluasi diri).

Kami bernyanyi bersama dengan lantunan dawai gitar, sambil meresapi arti hidup yang singkat ini. Hal ini dapat merekatkan persahabatan kami yang sudah dipupuk sejak awal outbond. Semangat selalu sobat!!!

Satu hal yang paling saya suka dalam potongan episode malam api unggun ini. Apakah itu? yakni Takbir bersama (muslim) yang dipandu oleh Bapak Stanley. Subhanallah… diri ini bergetar.😀

Usai acara malam api unggun, kami kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat.Karena esok sudah menyambut diri kami, melangkah ke perjuangan outbond selanjutnya.

———————————————————————————————–

Hari ke-2

Pagi hari, kami berkumpul pukul 05.00 pagi di lapangan. Ada beberapa peserta yang telat dan mendapatkan hukuman. Setelah semua peserta berkkumpul, kami mengikuti permainan dari Bapak Stanley. Seingat saya, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Diantaranya adalah “siapa yang pembukaan UUD 1945?”, “siapa yang hafal pancasila?”, “siapa yang hafal teks sumpah pemuda”, dan lain-lain.

Pelajaran yang saya petik, adalah pancasila ‘kita’ ternyata sudah dilirik oleh bangsa lain. Bahkan Bapak Stanley mengatakan, bahwa ada bangsa lain yang menyatakan kepada beliau bahwa seandainya pancasila itu dijual, maka orang tersebut akan membelinya untuk dipersembahkan menjadi pedoman negaranya.

Setelah itu, kami diberikan pengarahan untuk mengikuti prosedur outbond. Kelompok matahari mendapatkan porsi pertama dalam mengikuti permainan spider web, yakni melewati jaring tanpa menyentuh tali. Disinilah kelompok kami diuji, ketelitian memang menjadi faktor utama kelengahan kami. Ketika sedang asyik memindahkan teman kami ke sisi jaring, ternyata ada seorang peserta dari kelompok harimau yang mengambil mahkota kelompok kami. Mahkota tersebut diletakkan di atas kepala ketua kelompok kami. Itulah permainan, menang-kalah adalah hal yang biasa. Dan satu catatan dari diri saya, marilah kita berhati-hati terhadap serangan dari pihak lain. Entah itu dari depan, belakang, kanan, dan kiri.

Permainan kedua adalah memasukkan kelereng ke dalam pipa. Permainan ini membutuhkan strategi, kerjasama, dan ketelitian. Seru… saya merasa tambah bersahabat dengan teman satu kelompok.🙂

Permainan ketiga adalah melewati jalan yang sudah ada ‘path’ nya dengan daerah arsiran. Alhamdulillah, kelompok kami berhasil semua.

Permainan keempat adalah melewati jalur bambu dengan merayap. Jalur ini tidak lurus – lurus saja, namun berliku juga. Hal ini mengandung hikmah bahwa hidup kita ada masanya berliku. Yupz,” life is never flat!”

sheilla rizkia ferianty

About Sheilla Rizkia Ferianty

Semangat!

Posted on 30/11/2011, in Experience on ITB and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: